BESPOKE PENJAHIT JAS

Sebagai suatu bidang usaha (Trade),  dalam Tailoring lazim dikenal terdapat 3 sistem, yakni Bespoke, Made to Measure (MTM) dan Ready To Wear (RTW). Setiap sistem punya sebuah ciri pembeda (difresiansi) dengan sistem lainnya. Dari ciri-ciri pembeda ini saya dan anda bisa mengetahui identitas Sistem Tailoring suatu Tailor.

Semakin maju dunia Tailoring suatu negara, semakin gampang pula ciri-ciri pembeda ini guna di-identifikasi. Disamping sebab kebanyakan Tailor di negara itu mendeklarasikan secara tegas Sistem Tailoring yang dipakai, pun karena tingkat pemahaman pelanggannya yang pun tinggi dalam dunia Taioring.

Kondisi laksana diatas, bertolak belakang dengan apa yang terdapat di negara kita. Jangankan kustomer/pelanggannya, kalangan penjahit pun bisa jadi masih tidak sedikit yang tidak cukup paham dengan istilah bespoke, MTM, RTW atau istilah-istilah Tailoring lainnya. Beberapa diantaranya memahaminya dengan saling tertukar antara satu dengan istilah lainnya.

Bagi penjahit, dalam mengerjakan pekerjaan sehari-harinya,  mengetahui istilah-istilah ini sebetulnya tidaklah terlampau penting. Toh pemahaman, keterampilan dan keperluan tailoring mayoritas masyarakat belum menuntut ini. Tetapi di dunia maya, dimana batas-batas teritorial negara menghilang dan kita biasanya berinteraksi dengan penjahit dari negara lain, mungkin ada baiknya untuk kawan-kawan penjahit untuk mengetahui ketiga Sistem Tailoring diatas beserta difresiansinya.

Bespoke Tailoring.

Pada jaman dulu, saat seorang pelanggan memerlukan sebuah pakaian, maka dia akan mengunjungi tailor shop langganannya. Di dalamnya, pelanggan dapat memilih bahan yang terdapat (juga dapat memesan bahan khusus) disana. Pelanggan lantas bisa bertukar pikiran dan berkonsultasi dengan Tailor mengenai jenis pakaian dan style yang diinginkannya. Tailor lantas membuat pakaian pelanggan itu mulai dari nol, termasuk menciptakan pola dan fitting-nya. berikut hubungan dan teknik kerja tradisional suatu usaha (trade) Tailoring. Dan sistem kerja tradisional laksana inilah yang dinamakan sebagai Bespoke Tailoring.

Bespoke berasal dari kata be-speak (bicara / bicarakan), maksudnya bicaralah pada tailor akan keperluan pakaian anda, baik tersebut peruntukan acara, bahan, style dan hal-hal rinci lainnya. Artinya ialah bahwa tiap pakaian yang didapatkan oleh Tailor yang memakai Sistem Bespoke sangatlah personal. Pakaian tersebut dijahit melulu dan melulu untuk anda, dengan mengakomodasi ukuran,  selera, gaya dan keperluan anda. Pakaian ini barangkali tidak bakal fit bila digunakan orang di samping anda.

Bespoke Tailoring punya hubungan kerjasama eksklusif dengan produsen bahan/kain. Pelanggan dapat memesan kain dengan komposisi gabungan bahan tertentu (wool dan sutra misalnya) atau motif dan tekstur yang khusus. Kita pasti ingat dengan permasalahan yang sempat viral di dunia tinju, dimana Connor Macgregor (lawan Floyd Mayweather), saat timbang badan menggunakan setelan  jas dengan motif stripe (garis-garis) yang saat di-zoom ternyata garisnya berupa barisan huruf yang menyusun kata yang tidak senonoh.

Pemesanan bahan khusus laksana ini, hanya dapat dilakukan di sistem Bespoke Tailoring. Bisa dilaksanakan oleh Tailor tersebut sendiri, guna medefinisikan karakteristik atau style tailor shop-nya atau dilaksanakan oleh pelanggan guna mengakomodasi selera dan jati diri personalnya. Semakin maju suatu tailor, seringkali semakin tidak sedikit pilihan bahan yang dapat disesuaikan. Saking banyaknya, katalog bahannya dapat disebut sebagai “perpustakaan” bahan.

Kustomisasi semacam ini, dalam Bespoke Tailoring tidak terbatas pada bahan utamanya saja, tapi pun termasuk tiap unsur dan rinci aksesorinya. Mulai dari bahan furing/lining, model saku, dasi, square pocket bahkan hingga ke pemilihan sepatunya.

Proses pengerjaan pakaian pada sistem ini umumnya memerlukan waktu yang lama. Mulai dari menciptakan pola, fitting yang berkali-kali hingga jadi suatu pakaian siap pakai, dapat menempuh waktu sejumlah minggu atau pun bulanan.

Kustomisasi tiap rinci dari pakaian dan tetek bengeknya ini jugalah yang menjadikan pakaian hasil Bespoke Tailoring sangatlah personal dan eksklusif. Dan eksklusifitas seringkali berbanding lurus dengan tingginya biaya.

Ready To Wear (RTW)
Revolusi industri yang terjadi di eropa dominan  pada bertambahnya kesejahteraan dan keperluan pakaian orang-orangnya. Tingginya keperluan ini tidak dapat diisi oleh tailor yang menggunakan sistem tradisional (Bespoke). Terciptalah suatu Sistem Tailoring yang memungkinkan guna memproduksi pakaian secara massal. Sistem buatan massal inilah lantas dikenal dengan nama Ready To Wear (RTW). Atau disebagian belahan dunia beda ada yang menyebutnya dengan “off the rack (OTR)”.
Jas rtw

Dalam sistem RTW, pakaian diciptakan mengikuti standar banyak sekali orang. Ukurannya di kategorisasi menjadi size-size tertentu. Biasanya yang di jadikan acuan ialah ukuran lingkar dada dan panjang baju guna pakaian atasan,  dan lingkar perut guna bawahan.

Proses pengerjaan pakaian jenis ini dilaksanakan secara massal, biasanya mengandalkan keterampilan bahan siap pakai, mesin-mesin jahit, perangkat pressing, dan finishing yang modern. Bagian-bagian pakaian dalam sistem ini digarap secara terpisah. Para pekerjanya tidak dituntut mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang proses penciptaan pakaian. Yang urgen dia menguasai satu unsur tertentu dari proses penciptaan pakaian, contohnya bagian menciptakan saku saja atau memasang krah saja. Proses pengerjaan sistem RTW ini dapat menghasilkan pakaian dalam jumlah yang lebih banyak dalam masa-masa yang tidak terlampau lama bila dikomparasikan dengan sistem tradisional.

Hasil jadi buatan pakaian sistem ini terdapat di toko-toko retail. Pelanggan melulu perlu mengunjungi toko-toko tersebut, memilih dan mencobanya, guna kemudian dapat langsung diangkut pulang. Sederhananya, hasil pakaian ini disebuat pakaian siap pakai.

Bila terdapat ketidak cocokkan ukuran tertentu, entah panjang lengan, lebar bahu atau yang lainnya, kustomer tinggal membawa pakaian itu ke speasialis alterasi atau tukang permak guna disesuaikan.

Penggunaan pola yang di standarkan dan kecepatan  pengerjaannya memungkinkan pemangkasan ongkos produksi secara signifikan. Oleh karena tersebut harga pakaian hasil buatan jenis sistem ini relatif jauh lebih rendah bila dikomparasikan dengan hasil produk Bespoke Tailoring.

Made To Measure (MTM).
MTM secara mudahnya ialah jalan tengah dari kedua sistem diatas (Bespoke dan RTW). Dalam sistem Bespoke, disamping keunggulan eksklusifitasnya, punya kelemahan dalam urusan biaya. Tidak seluruh orang perlu pakaian yang khusus dan paling personal, pun tidak semuanya dapat menjangkau ongkos produksinya. Dalam sistem RTW, meskipun harga pakaiannya relatif lebih dapat dijangkau seluruh orang, punya kekurangan dalam urusan ukuran yang melulu menyediakan ukuran standar. Sistem MTM mengakomodasi keunggulan dan kelemahan kedua sistem diatas dan memcoba meluangkan titik komprominya.

Tailor yang menggunakan sistem MTM ini, teknik pembuatan pola pakaiannya, sama dengan teknik yang digunakan oleh sistem RTW. Yakni pola-pola standar. Dari pola standar ini dibuatlah pakaian-pakaian jadi yang nantinya difungsikan sebagai sarana fitting/pengepasan. Bagi pengerjaan dan penyelesaiannya, sistem yang digunakan bervariasi, terdapat yang di pecah per bagian laksana RTW, ada pun yang digarap dengan utuh laksana sistem tradisional.

Pelanggan yang datang ke tailor MTM, dipungut ukuran dasarnya saja. Untuk lantas dipersilahkan mengupayakan pakaian jadi yang telah dipersiapkan guna kemudian dilaksanakan penyesuaian. Misalnya diketahui lingkar dada si pelanggan ialah 100 cm. Berarti kelompok ukurannya ialah size 50 (standar itali) atau size 40 (standar inggris). Pelanggan diminta mengupayakan pakaian jadi cocok size-nya yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kemudian Tailor atau pekerjanya membuat daftar tentang penyesuaian-penyesuaian kecil yang perlu dilaksanakan pada pola standar guna mengakomodasi ukuran-ukuran atau postur pelanggan yang tidak pas. Catatan ini lantas di bawa untuk pembuat pola, pola standarnya kemudian di modifikasi, guna selanjutnya dapat dimulai proses pengerjaan pakaian si pelanggan.
Jas made to measure

Pelanggan pun dipersilahkan memilih bahan dan style yang diinginkan, namun tetap terbatas pada bahan dan style yang telah dipersiapkan misal jadinya. Berbeda dengan sistem Bespoke dimana seringkali pengambil ukuran dan pembuat pola ialah orang yang sama, pengambil ukuran guna sistem MTM dapat dilakukan orang lain, dapat sales toko atau konsultan pakaian. Proses fitting juga dilaksanakan pada sistem ini.

Hasil pakaian dari MTM ini barangkali tidak se-personal dan se-eksklusif  hasil Bespoke, namun lebih aman dari ill-fitting dampak kekurang piawaian pembuat pola. Karena penyesuaian yang dilaksanakan pada pola standar ialah penyesuaian-penyesuaian kecil/minor saja. Biaya buatan sistem ini relatif lebih rendah,  dan proses pengerjaannya pun lebih cepat dibanding Bespoke Tailoring.

Handmade, Canvassing dan Kualitas.
Banyak yang memandang handmade (jahitan tangan) dan Canvassing (pelapisan Bubat/Buntut kuda) itu melulu ada pada sistem Bespoke. Bahkan ada pun yang mengira bahwa Bespoke ialah “Teknik Menjahit”. Anggapan ini ialah anggapan yang salah kaprah. Benar bahwa seluruh Bespoke Tailoring ialah handmade dan pastinya memakai teknik Canvassing pada pelapisan jasnya. Tetapi banyak sekali MTM papan atas pun menggunakan kiat handmade dan canvassing yang sama, kecuali pastinya RTW yang umumnya memakai teknik fusing/lem.

Perbedaan utama antara Bespoke dan MTM ialah pada teknik pembuatan pola, opsi bahan eksklusif dan keterbatasan style-nya.

Kualitas setiap sistem diatas paling tergantung pada kepiawaian pekerjanya. Umumnya dan idealnya, pasti saja produk Bespoke harusnya lebih fit digunakan dan lebih unggul kualitasnya,  menilik waktu dan proses pembuataannya. Tapi kenyataannya, tidaklah tidak jarang kali demikian. Banyak didatangi produk Bespoke yang tidak fit dan kualitas jahitannya sama saja atau lebih rendah dibanding RTW.

Ketiga kelompok sistem diatas, menurut keterangan dari saya, bukanlah suatu ukuran peringkat. Masing-masing sistem punya kendala dan kendala yang berbeda. Dan pelanggan dapat memililh sistem mana yang cocok dengan kebutuhannya.

Identitas Tailoring Kita.
Pertanyaan selanjutnya, dari ketiga sistem diatas, manakah yang cocok untuk dinamakan sebagai identitas tailoring kita?

Sebagaimana kami sebutkan diatas, perbedaan tegas ketiga sistem diatas dapat dengan gampang kita identifikasi pada negara-negara yang bidang Tailoringnya maju. Tetapi batasan-batasan perbedaan ketiganya menjadi agak samar pada negara-negara yang bidang tailoringnya tidak terlampau maju, laksana negara kita, Indonesia.

Sebagian Tailor anda ada yang dapat kita identifikasi dengan mudah. Kebanyakan konveksi, misalnya, dapat kita identifikasi sebagai pemakai sistem RTW atau OTR. Beberapa Tailor papan atas di negara anda juga dapat kita identifikasi sebagai Bespoke Tailoring, walaupun banyak sekali tidak tegas dan terkesan malu-malu mendeklarasikan Sistem Tailoring yang dipakainya.

Sedangkan banyak sekali Tailor (dan barangkali seluruh Tailor ruang belajar menengah), tidak dapat dengan gampang kita identififikasi sebagai MTM atau Bespoke. Dalam teknik pembuatan pola, nyaris semua Tailor kita memakai Sistem Bespoke, dimana guna tiap satu pelanggan diciptakan satu pola. Dalam urusan pemilihan bahan dan style yang tersedia, banyak sekali Tailor kita serupa dengan identitas MTM. Sedangkan dalam teknik pengerjaannya, walaupun tidak dibagi per- bagian, kecepatan proses dan hasil produknya barangkali setara dengan RTW (termasuk hasil produk kami sendiri). Bingung kan?

Mungkin jawabannya kita dapat meniru istilah yang digunakan di benua amerika. Disana, baik Bespoke maupun MTM, dinamakan dengan istilah yang sama yakni Custom Tailoring.  Barangkali berikut identitas yang pas guna Sistem Tailoring banyak sekali Tailor di negara kita. Kita anggap saja istilah ini sebagai kompromi identitas.

Pada akhirnya, apalah dengan kata lain sebuah istilah untuk sebuah identitas. Toh, pelanggan anda tidak terlalu peduli dengan istilah-istilah diatas, sekitar mereka sesuai dan puas dengan produk kita, apapun identitas Tailoring kita, tidak jadi masalah. Tetapi, terdapat baiknya untuk penjahit untuk mengetahui istilah-istilah diatas supaya tidak memakai istilah-tesebut secara tumpang tindih dan menuliskannya secara salah kaprah.

Catatan ekstra :
Komunitas Tailoring di inggris pernah mengemukakan gugatan keberatan pada otoritas periklanan  atas dipakainya istilah “Bespoke” dalam iklan pakaian yang digarap dengan sistem MTM. sayangnya, gugatan ini secara sah ditolak. Alasan penolakannya ialah karena merujuk kamus dimana Bespoke ditafsirkan sebagai “made by order” (dibuat cocok pesanan). Jadi menurut keterangan dari otoritas periklanan inggris seluruh barang yang dapat dipesan cocok pesanan dapat memakai istilah “Bespoke” dalam iklan mereka.

Walau demikian perbedaan identitas antara MTM dan Bespoke Tailoring harusnya ialah sesuatu yang jelas untuk komunitas Tailoring, termasuk semua pembelajarnya

Artikel by jurnal tailor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *